Senin, 01 November 2010

Menimang Mimpi


Telah kuarungi jejak-jejak pesonamu dari ringkuhan hamba yang terhipnotis bahasa cinta. Dalam kelekar yang bertajuk keabadian, hanya buih-buih rona yang terpancar seketika menyeretku dalam keheningan malam. Semesta seakan mencakar keberadaanku sebagai hamba yang tengah berada pada keputusasaan, ya… hanya segelincir harapan yang sebenarnya ingin kutorehkan, namun desah hidup ini semakin kurasa, melucuti jiwa dan raga. Tiap detak nadi perputarannya mengerayangi asaku yang mulai terjelabak dan sia-sia penantianku, yang ternyata hanya menoreh luka.
Kucoba semai kembali lewat peraduan ini, tak ingin buru-buru mendermagakan kasih yang perlahan-lahan memudar di senja yang kering. Malam semakin kental, tak ada lagi suara deru dari mesin kendaraan yang biasa melintas di depan rumahku. Sayup-sayup suara binatang malam mulai menghiasi indahnya di kegelapan yang kelam, Kesendirianku lah yang menciptakan kekelaman itu, kesendirianku semakin terasa di ufuk derita, derita yang menganga di relung hati sang pemuja. Tepi hidupku semakin terasa tapi aku harus tetap sadar bahwa ada beban yang melekat di pundakku, pundak kerapuhanku.

* * *
“ Jangan sentuh anakku!” Gertakku, tanpa menghiraukan keberadaannya di dalam hidupku. Segera kuraih tangan mungilnya seraya melihat tatapan polosnya yang kuyakin ia belum mampu merekam peristiwa pahit ini.
“ Kau yakin, tak ingin memberikannya?” Ia semakin garang kulihat dan tanpa berpikir panjang dengan segera kubawa lari tubuh bayi itu dengan tangan kebodohanku.
“ Larilah bodoh! Jangan kembali lagi. Aku ceraikan kau!” Teriaknya menyemai pilu di hatiku. Dan meluncurlah air mata dari sudut kepedihanku.

Termakan rayuan cinta, yang akhirnya menyengsarakan jiwa. Segala kepedihan itu kini telah kurasa, penghianatan kukecap dengan pahitnya. Sosok itu tak lagi seindah merpati putih yang melintas di hatiku, kini sosok itu telah serupa dengan elang yang mencari mangsa dengan tatapannya yang tajam. Ia garang, tubuhnya yang kekar seolah ingin mencakar. Matanya yang teduh berubah ganas. Ia bukan Fikar, ia bukanlah lagi suamiku yang dulu, sosok yang kukagumi itu telah menghilang menyelinap masuk ke raga lain, aku yakin itu, namun siapakah sekarang yang sedang merasuki raga Bang Fikar suamiku? Aku yakin iblis yang telah merasukinya dan membuang jauh sikap lembutnya suamiku.
“ Apa kabarmu Dinda? Aku titipkan Ruli padamu, kumohon jangan rindukan aku.” Seketika kurasakan ada bisikan hangat di telingaku dan ternyata kusadari itu hanya ada di dalam mimpi. Airmata pun tak pernah kering mengalir dari kepedihan hati.
Berita kali ini benar-benar membuatku tercengang. Buat keyakinanku semakin kuat bahwa sosok itu pasti bukan Bang Fikar, yang sempat kukagumi perangainya, kukecup tangannya, kuabdikan diriku untuk mendampinginya sebagai istri.
“ Hana, cepat lihat berita di televisi, ada orang yang bernama Fikar di tembak mati oleh polisi, karena berusaha lari saat ketahuan telah membobol sebuah atm bank, kulihat itu adalah Fikar, mantan suamimu.” Jelas seorang tetangga padaku.
Batinku menjerit, tak kuasa melihat apa yang sedang kulihat. Dimana sebenarnya Bang Fikarku, Dimana Tuhan pindahkan jiwanya? Ia telah berubah, sungguh berubah.
* * *

“Jangan menangis Dinda! Usap lah airmatamu.”
“ Aku sedih melihatmu Bang.” Ucapku sendu
“ Dengarlah, jadikan aku sebagai pelajaran bagimu.”


Aku tersadar dari tidur pulasku, Bang Fikar kembali hadir di dalam mimpiku, mimpi yang luruhkan jiwa dan batinku.

* * *
Malam ini aku akan menemui Bang Fikar lagi di dalam mimpi, matanya yang sendu tampak di mataku, namun ada segurat sikap sinis terlontar ketika aku mulai bertanya akan perubahan sikapnya, yang mengundang beribu tanya.
“Apa yang terjadi padamu Bang? Mulanya aku terkejut ketika kau berani ingin memukul kasar anakmu sendiri, lantas kemudian sekarang kau berani melakukan hal kotor yang tak sepantasnya dilakukan oleh orang yang mengerti agama sepertimu.” Tanyaku penuh kecewa dengan sikapnya,
“ Diam!” Ucapnya kasar padaku.
“Aku butuh penjelasanmu! Sebenarnya aku masih menginginkanmu, namun dengan perubahanmu yang tak dapat kutoleransi lagi,..” Belum selesai aku berbicara ia memotongnya.
“ Bagus!” Kembali ia melontarkan sepatah kata, yang buatku kecewa.
“ Bisakah kau jelaskan semua Bang? Aku butuh penjelasanmu.” Aku bersikeras.
Ia pun menarik nafas panjang, kali ini gurat di wajahnya tak berupa, air mukanya menjadi beraneka ragam. Terkadang ia akan senyum sendiri, melongos, sempoyongan, bahkan menggertak. Lama kami dalam diam, ia pun akhirnya buka suara.
“ Aku tak tahan hidup seperti ini. Aku butuh uang, aku ingin menjadi jutawan. Aku tak terima hidup miskin terus di bumi ini. Mereka menginjak-injakku, menjadikanku budak, seenaknya padaku, meludahi wajahku, akh……” tiba-tiba ia gusar, brutal, dan memaki-makiku.
“ Tuhan, ada apa dengan Bang Fikar? Dia sudah gila, jiwanya kering keronta, tak ada cahaya. Aku pun pergi meninggalkank dirinya tak peduli, dan tersadar dari mimpi.


Aku tak percaya, kadang Bang Fikar hadir di dalam mimpi bagaikan bidadari, namun tak pelak juga serupa algojo yang tak punya hati. Aku tak pula berharap ada lelaki lain yang datang menjadi pengganti, yang kuharap hanya Bang Fikar untuk tetap hadir dalam mimpi, dengan perangainya yang serupa bidadari. Aku begitu merindukannya, rindu akan suami yang pernah mengisi relung hati. Rindu sosoknya yang penuh dengan cahaya, tak terbesit sedikitpun prasangka bagi siapa saja yang melihatnya, entahlah Tuhan memang punya rencana bagi dirinya. Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan mengampuni dosanya dan memberikan tempat di sisi-Nya.
Malam selanjutnya kembali menjelang, bulan pun kembali menyampaikan senyuman, senyuman menuju masa depan. Tak lagi memeluk kelam. Aku tetap yakin, kini kerinduan akan belaian ini tak akan lagi datang mendekat, cukup pelukan Bang Fikar yang tentunya dengan kelembutan kerap hadir di dalam mimpi yang menjadi pembalut kesepian hati, meski dalam sadar Bang Fikar tak lagi ada di sisi karena sikapnya yang telah terhipnotis kenikmatan duniawi. Aku larut menimang mimpi di dalam diri.

Ranah Kompak, 2010

Minggu, 17 Oktober 2010

penyesalan


Sujudku mulai patah, Tuhan
saat jemariku seakan lekang menghitung asma-Mu
lisanku terkunci tanpa sadar terhipnotis ramuan indah Maha Karya-Mu

gelapku telah runtuh, Tuhan
langkah kakiku terjepit di antara batuan mutiara yang kau gelimangkan di dunia
otakku mengeram tak membayang Kau lah penunjuk jalan

jiwaku terbunuh, Tuhan
Pada setiap ketiak takdir yang kau sematkan
pada perut bumi yang kan jadi saksi peraduan
batinku terpelosok dalam kelambu belantara kehampaan

Aku lah, Tuhan
aku lah, Tuhan
dan aku lah ,Tuhan
Yang terdampar pada trotoar kerugian
mengapit sendu yang terbawa-bawa menuju pengadilan.

( Terilhami dari Q.S Al-‘Asr)

Rabu, 13 Oktober 2010


Mengeja Tawa

Dari tepi Burni Telong
kueja butiran tawa bening
menyapu peluh dari tapak pendaki
pemburu kopi
dalam persetubuhan bumi mentari
kembali kueja pagi

di bawahnya kudendangkan syair rindu
iringi nada cincimpala merdu

selangsa sorak beriring
dari para pemuda kampung bermain teganing
merakit sejarah yang hampir punah
racikan aroma cah ikut merekah
tetap mengeja tawa
yang syarat akan makna

Selasa, 12 Oktober 2010

Dua Pasang Mata


Dua pasang mata bertebaran di hulu sungai
memercikkan bayang-bayang resah
para pemungut malam penantian

dua pasang mata saling mengundang tanya
tetap sikukuh kerlingan dari kelopak bara
menari lah para pendatang surga berebut tinta
hendak menggores apa-apa telah tersirat dari dua pasang mata

yah, hanya ada dua pasang mata.

Selasa, 05 Oktober 2010

Bulan Retak Seribu


sejak kemarin hanya titipan senyummu yang masuk ke dalam rongga cahaya kelamku, meneguk beberapa pertemuan kita sempat lalu, hatiku pun berguguran di atas sesal hendak menjabah gelisah yang kian menebal. Pula tak lagi ada kumandang darimu mengiba sebab cukup sudah penantian ini teraba aku pun kembali tak ayal menyimpan rupa, namun kembali kau memanggil-manggilku dalam diam hatimu, tatapan rindulah yang akhirnya membawaku kembali terjerumus dalam pangkuanmu.. pangkuan bulan retak seribu...

Minggu, 03 Oktober 2010

Kisah di Perempatan Waktu


Malam menyelimutiku dengan kelam
udara sesak menghimpitku dalam belenggu rindu

tawa kita tak lagi dapat beradu
sebab senja telah mengurung pertemuan antara kau dan aku

bukannya aku ingin memetik beberapa rindu
yang telah menjamur di kalbu
hanya ingin menoreh sebentar ke belakang
melirik kisah yang telah berada di perempatan waktu

Kamis, 12 Agustus 2010

Pria beruban


Seraya membawa tas ransel yang berisi berbagai buku mengenai Sastra Indonesia, yang lumayan berat untuk dibawa oleh seorang mahasiswi bertubuh kecil sepertiku. Dengan tergopoh-gopoh kupercepat langkah menuju persimpangan jalan untuk menunggu angkot yang akan membawaku ke kampus tempat sebuah seminar sastra akan diadakan. Beberapa menit lamanya, belum juga muncul nomor angkot yang kuinginkan. Rasa letih meradang di kakiku yang sedari tadi menopang tubuhku berdiri di bawah sinar mentari yang mulai menyengat di siang hari ini. Happ! Segera kulambai tanganku ketika sebuah angkot bernomor yang memang kutunggu kehadirannya tepat melintas di depanku.
“Allahu akbar!” Aku tersentak. Belum sempat kurebahkan tubuhku di kursi angkot, sang sopir langsung tancap gas melaju cepat. Dengan perasaan dongkol, kuatur posisi duduk yang nyaman. Tampaklah olehku seorang pria beruban dengan setelan kemeja putih lengan panjang, celana keper hitam, sepatu yang lumayan berkilat dan membawa sebuah tas, persis seperti seorang pengajar. Ia pun memberikan senyumannya padaku dan aku pun membalas dengan sekenanya. Barulah kusadari ternyata di dalam angkot hanya ada dua penumpang yakni aku dan pria beruban tersebut.
“ Hati-hati! Ini kota besar Ra, banyak orang yang melakukan kejahatan secara transparan di sini. Jangan mudah percaya dengan penampilan seseorang, sejujurnya sekarang ini penampilan merupakan usaha untuk menyembunyikan kebohongan diri.” Nasehat Kak Windra seketika mendarat di ingatanku. Sebagai anak rantauan yang tak tahu apa-apa, tentu aku harus berhati-hati.
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang, keringat dingin mulai menjalar dari dahi dan telapak tanganku. Kecurigaanku tiba-tiba saja muncul pada pria beruban yang tengah duduk tepat di hadapanku. Entahlah, tiba-tiba aku menjadi paranoid begini.
“ Mau kuliah, Dik?” Ia memulai pembicaraan denganku,
“ Iya, Pak!” Jawabku singkat, dengan mencoba menatap kedua matanya yang tajam kurasa.

“ Fakultas apa?” Ia kembali bertanya yang semakin membuatku curiga kepadanya, sekilas terpikir olehku, mungkin saja ini adalah trik untuk memulai aksinya. Oh Tuhan, jantungku semakin berdegup kencang. Aku takut, kalau-kalau pria beruban ini sedang berusaha menghipnotisku kemudian dengan seenaknya ia akan mengambil barang-barang milikku.
“ Jangan tatap matanya!” Kak Windra pernah berpesan begitu padaku sebab katanya orang dapat dengan mudah menghipnotis kita melalui tatapan mata.
“FBS, Pak!” Kembali kujawab dengan singkat pertanyaannya dan tentunya tanpa melihat matanya. Aih… tindakan ini sungguh tak sopan kurasa, selain berbohong, aku juga berbicara dengannya tanpa melihat wajahnya sama sekali. Hati kecilku sebenarnya berontak, namun apa daya ketakutanku mengalahkan semua.
Perasaanku semakin tak tenang, perjalananku menuju kampus tempat seminar berlangsung masih jauh letaknya dari tempatku sekarang. Tak mungkin aku turun di sini untuk menunggu angkot lain, sedang angkot yang kunaiki sekarang saja, aku harus menunggu kurang lebih sampai sepuluh menit lamanya, apalagi acara seminarnya akan dimulai sekitar lima belas menit lagi. Ia terus tersenyum melihatku, dengan sembunyi-sembunyi aku memperhatikan tingkahnya itu, dan dengan sigap aku berusaha mengontrol diri agar tidak terlihat sebagai anak polos yang baru datang ke kota.
Tak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mulut pria beruban tersebut, agaknya ia sedang menikmati betul perjalanannya bersama angkot yang membawa kami. Tiba di sebuah jalan besar, seorang gadis muda berkacamata dengan rambutnya yang terlihat masih basah dan dibiarkan tergurai begitu saja, melambaikan tangannya pada angkot kami. “ Syukurlah!” Batinku berucap, akhirnya ada juga penumpang lainnya.
Begitulah seterusnya, pria beruban pun tak lagi mengeluarkan kata-kata sampai akhirnya aku pun sampai di tempat tujuanku. Ketika aku turun dari angkot, pria beruban yang membuatku curiga itu pun melirikku. Aku tak peduli.
* * *
Hari-hariku kulalui seperti biasa, mengikuti perkuliahan, aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan dan tetap pula aktif mengikuti seminar-seminar di berbagai universitas.
“ Pak Asrul sakit, jadi beliau untuk beberapa pertemuan tidak bisa masuk!” Begitulah relator kelas kami memberi informasi. Kasihan Pak Asrul, dosen sastra itu harus dirawat di sebuah rumah sakit karena penyakit kolestrol yang dideritanya. Padahal mahasiswa sangat mengidolakan beliau, peengetahuan sastranya yang begitu luas serta karya-karya sastranya yag banyak terbit di media masa menjadikan beliau begitu popular di fakultas kami.
Sedang serius membicarakan keadaan Pak Asrul, tiba-tiba seorang pria dengan setelan baju batik, celana keper hitam, sepatu yang lumayan berkilat dan membawa sebuah tas, mengetuk kelas kami.
“ Selamat siang!” Sapanya kepada kami semua.
“ Selamat siang, Pak!” Sahut kami serentak.
“ Kenalkan, saya Pak Johar. Saya dosen sementara pengganti Pak Asrul. “
“Oh, ternyata Bapak yang bernama Pak Johar. Maaf Pak kami tidak tahu, kami juga
diberitahu oleh bidang administrasi baru tadi pagi.” Jelas relator kelas kami.
“ Baiklah tidak apa-apa, sebelum kita mulai perkuliahan hari ini. Ada baiknya kita berdoa terlebih dahulu menurut agama masing-masing.” Kami tertegun, jarang sekali dosen yang masuk ke kelas kami melakukan hal ini.
Usai berdoa, Pak Johar kemudian mengabsen kami satu persatu.
“ Sara wanate!” Giliran namaku di panggil, kuangkat telapak tanganku sebagai petanda bahwa aku hadir di dalam perkuliahan hari ini. Pak Johar memandangku dengan lekat, tak lama kemudian tergurat senyuman tipis dari bibirnya. Kebingungan pun menyelimuti benakku.



Beliau melakukan kegiatan perkuliahan dengan runtun sekali, sesekali beliau menyelangi perkuliahan dengan candaan ringan yang membuat kami geli dan akhirnya perkuliahan hari ini pun selesai, berhamburanlah para mahasiswa menuju pintu keluar kelas, perasaan aneh, curiga serta bingung masih berkecambuk di hatiku karena prilaku Pak Johar yang menurutku aneh padaku.
* * *
Malam mengetuk pintu langit, menyelinap masuk menebar aroma kentalnya udara malam di bawah rimbun pohon yang tepat berada di luar depan kamarku. Bintang juga tak mau tinggal untuk ikut andil, dengan setia menghiasi malam dengan cahaya kelap kelipnya.
Besok Pak Johar kembali masuk ke kelas kami dan tentunya dengan sikapnya yang masih mengundang pertanyaan besar di benakku.
* * *
Mukaku memerah, kembali kurasakan keringat dingin menjalar dari dahi dan telapak tanganku seperti kejadian waktu itu. Betapa tidak, aku terperanjat melihat Pak Johar dengan penampilannya pagi ini. Setelan yang ia gunakan mengembalikan memoriku yang sempat terkubur dulu.
Kembali ia tersenyum melihatku, kini ia pasti tahu bahwa saat itu aku berbohong padanya. Tak sabar menunggu waktu istirahat , niatku untuk menjelaskan padnya sudah tak terbendung lagi. “ Ada apa Saudara Sara? Anda terlihat gelisah?” Tiba-tiba beliau bertanya padaku, agaknya ia memperhatikan tingkahku. Aku pun hanya dapat tertunduk dan tersenyum malu.

Ranah Kompak, Juni 2010

(Terbit di Medan Bisnis, 13 Juni 2010)

Minggu, 20 Juni 2010

Permata Tak Terduga


Subuh ini masih berpagut mimpi. Derasnya bendungan awan yang pecah semalam, menggugurkan ranting-ranting di dahan kering bahkan lembaran daun-daun segar banyak yang jatuh berserakan memenuhi hamparan halaman. Ditambah dengan udara pagi yang terus menerus menampar wajahku dengan lembut menerobos masuk ke pori-poriku yang terbuka menganga tanpa selembarpun balutan kain hangat, adalah suatu hal yang telah biasa bagiku untuk membiarkan udara dingin itu menyetubuhiku di setiap waktu.

Namun sosok itu masih saja setia dengan kegiatan rutinnya, subuh yang begitu akrab baginya untuk melafazkan asma-asma indah milik-Nya, bibir yang basah dengan syahadath, tenggorokan kering tak lelah berdzikir. Mencium dengan takdzim sajadah panjang yang tergelar di hadapannya.

Nyawa yang hidup penuh cinta. Dengan mata yang masih sangat kantuk, samar-samar ku tatap wajahnya yang begitu bersahaja di balik mukena putihnya. Doa dari setiap gerak bibir tipisnya bisa kurasa, kutemui begitu banyak makna di sana, makna dari kebaradaanku ditengah hidupnya. Lamunanku seketika mendarat, saat ia akhirnya beranjak dari tempat simpuhannya.

“Tes…tes…tes…”

Sisa hujan, agaknya masih terus merembes masuk lewat atap rumah yang telah rusak. Kata ibu hari ini, ia akan membeli sebuah seng bekas untuk menempeli atap tersebut dari uang sisa penjualan sayur hasil kebun kecil kami di belakang rumah.

Dengan senyumnya yang merekah, ia berlalu dari penglihatanku. Sosoknya menghilang di balik lebatnya kabut pagi, aku tahu ibu Pasti akan mengambil air di sumur yang letaknya lumayan jauh dari rumah kami.

# # #

Hidup dengan deraian air mata, hanya menambah beban derita. Memperpanjang pilu di dada, dan menggores luka hingga tak ada lagi cerita. Perjuangan memang tak mudah, namun setiap langkah dengan usaha dan doa akan membawa ke jalan yang penuh dengan cahaya.

“Syukuri anugerah yang telah diberi untuk mencari cinta yang benar-benar hakiki.” Pesan singkat ibu yang terniang di setiap waktu.

# # #

Aku sendiri tak akan mencari jawab dalam sunyi, walau rindu semakin bergelayut dalam penantian yang kurasa begitu panjang dan hari-hari kian di tantang oleh kesepian.

“ Bu, maukah besok menemaniku untuk menemui Marni?” tanyaku dengan penuh harapan.

“ Kau sudah yakin?” Ibu malah balik bertanya padaku.

Kumantapkan hatiku dengan senyum kepastian, kuanggukan kepala. Ibu pasti mengerti maksudku.

“Pemuda tak tahu diri, apa maksudmu berani melamarku menjadi istrimu? Ingin menghancurkan hidupku?” Cetus wanita muda manis yang sebelumnya begitu perhatian padaku.

“Kau tak pantas untukku Bon. Aku menganggapmu hanya sebagai teman, tidak lebih. Kuburlah dalam-dalam niatmu itu.”

Seketika kurasakan perubahan pada diri Marni, ia bukan seperti Marni yang kukenal dulu, gadis manis yang terdidik dan berbudi pekerti itu tak ada lagi. tatapan matanya penuh kebencian padaku, apalagi kata-katanya yang tega menelanjangi harga diriku. Bukan hanya itu, kembali aku dengan tega merobohkan hati ibu lagi.

“ Hentikan Bon! Ibu tak ingin orang lain seenaknya lagi dengan kita, biarlah kelak bidadari yang kau nanti akan datang sendiri.” Emosi ibu memuncak.

Aku dan perasaanku menunduk, terduduk dalam pangkuan kebungkaman.

# # #

Kabut itu kini mulai memudar. Walau belum ada waktu yang mempertemukan aku pada bidadariku, aku yakin Tuhan MahaAdil dan akan membagikan keadilan-Nya itu pula padaku.

Sebuah kabar yang begitu mengembirakan bagiku dan ibuku, karena adikku Atik akan pulang menemui kami di gubuk yang tak seberapa ini. Sejak pernikahannya dengan Odi, anak kota yang ia kenal saat ia bekerja. Ia belum pernah sekalipun menemui kami di kampung, namun ternyata kedatangannya mengungkapkan goresan luka yang ia endap selama ini. Pernikahannya telah berakhir di meja hijau, suaminya tega mengkhianti cintanya dan membina rumah tangga lagi bersama wanita lain.

Kasihan ibu yang telah bersusah payah memelihara anaknya, namun tak luput juga dari derita. Atik memang bukan anak kandung ibu, ia dilahirkan oleh sahabat karibnya yang telah meninggal dunia tepat ketika Atik berusia 15 tahun pada saat itu. Sungguh Ilahi telah menentukan sendiri takdir hidup seorang insani.

Siang ini udara lembab tak ada lagi telah dijilati oleh mentari pagi, kini mentari itu pun begitu bergairah memancarkan sinarnya. Aku yakin ibu dan Atik pasti kelelahan menjadi buruh sawit di kebun milik Pak Amat. Sedang aku tetap saja di rumah, tak bisa berbuat apa-apa. Selain memanfaatkan kemampuanku membuat perahu mainan dari bambu dan tempurung kelapa, pekerjaanku ini rutin kulakukan, maka tak jarang aku pun harus merepotkan ibu untuk mencari bambu yang tak berguna lagi. Pemasarannya pun aku juga harus dibantu ibu dan Atik, syukur jika ada pembeli jika tidak, perahu-perahu itu hanya dapat terdampar di dalam keranjang.

Aku memang pemuda yang tak berguna, hari-hari hanya bisa melihat ibu dan Atik banting tulang mencari nafkah. Harusnya aku lah sebagai pemimpin keluarga pengganti almarhum ayah yang telah tiada, namun ketakberdayaanku sebagai manusia tak bisa membuatku punya daya.

Saban hari aku semakin di rundung sepi dan kesepian itu semakin menghujam hidupku, itu terjadi ketika Atik memutuskan untuk menikah kembali.

Lalu kapan Tuhan akan menghadirkan bidadari untukku? Umurku sudah tak muda lagi, aku tak mungkin selamanya bergantung pada ibu yang semakin termakan usia. Apalagi Atik, tentu ia akan dibawa pergi oleh suaminya nanti.

Mungkinkah memang tak ada bidadari untuk orang hina seperti aku ini? Pemuda lemah yang hanya mampu bersandar pada kursi roda yang telah setia menjadi tumpanganku sejak penyakit lumpuh yang mengerayangi kakiku di umurku yang ke 12 tahun.

Pipiku basah oleh tetesan bening yang telah membendung lama di sudut mata. Aku menatap diri di depan cermin, masuki dunia imajinasi seolah menjadi pemuda yang gagah berani dan tak punya sedikitpun kelemahan di setiap sisi.

“ Astaghfirullah, ampun Ya Rabb.” Batinku berucap, aku telah durhaka mengingkari nikmat yang telah ada.

# # #

Malam menyelinap masuk, udara dingin kembali merasuk.

“ Ibon, kau sadar bahwa salah satu bintang di sana tengah memberikan sebuah senyuman untukmu?” Ucap ibu seraya memberikan belaian hangatnya padaku.

“ Maksud ibu?” Tanyaku tak mengerti.

“ Rembulan yang bercahaya indah memang tak ada, namun bintang- bintang tetap menghadirkan cahayanya walau dari kejauhan.”

Aku semakin tak mengerti maksud pembicaraan ibu,dan dengan seksama kudengarkan lanjutan dari pembicaraan ibu.

“ Sabarlah anakku, jauh disana ada bidadari yang juga sedang mencarimu dan yakinlah bahwa Tuhan akan hadirkan sosok itu walau tak seindah bidadari syurga.”

Perlahan aku mulai paham maksud ibu, selama ini aku terlalu berharap bahwa yang menjadi bidadariku adalah wanita yang penuh dengan kesempurnaan, kecantikan, kepandaian tak ada sedikitpun kekurangan. Karena aku berharap wanita yang akan mendampingi hidupku akan dapat menutupi kekuranganku.

Aku tak berpikir, sudikah sosok itu mendampingi hidupku? Aku hanyalah debu yang seenaknya di terbangankan oleh angin kemanapun, dari tanah, sepatu sampai ke tempat sampah. Sedangkan wanita yang kuharap adalah mutiara, sungguh tak ada malunya diriku ini.

“ Ibu, salahkah aku mengharap yang datang kelak memang sosok yang seindah mutiara?”

Ibu tersenyum dan kembali membelai kepalaku.

“ Tidak anakku, kau tak salah. Namun cobalah buka hati dan pikiranmu, dari sekian mutiara yang kau harap tak ada satu pun yang menyambut kedatanganmu. Takkah kau berpikir bahwa masih ada permata yang rupanya tak kalah indah dengan mutiara?”

Ah, seketika khayalku tersendat dan menyadari bahwa perkataan ibu ada benarnya juga. Selama ini aku memang terlalu sombong mengharap sesuatu yang tak mungkin ku dapat. Jangankan sesosok seindah mutiara, seindah permata saja belum tentu akan kudapat.

“ Kau ingin wanita seindah permata itu ?”

“Mungkinkah permata itu ada untukku, Bu?” Aku merasa ragu.

Kali ini ibu mendaratkan ciuman hangatnya di dahiku, aku merasakan cinta bunda yang merasuk ke jiwa.

# # #

Pagi ini suasana rumah terlihat sangat sibuk, tikar-tikar bagus tampak digelar di setiap ruangan. Ibu tampak terburu-buru seperti dikejar waktu, ia juga tidak melupakan aku, selesai mandi aku diberi sebuah baju koko dan kopiah baru. Aku bingung, karena sejak tadi ibu belum mejelaskan sepatah katapun padaku.

“ Ibon, kau siap?” Ibu bertanya padaku.

“Maksud ibu?”

“ Kau akan menikah anakku.” Jelas ibu dengan senyum bahagianya.

“ Kau tunggu disini, sebentar lagi bidadari permatamu akan ada di sampingmu. Kau percaya pada Ibu kan? Percayalah kau pasti menyukai permata ini.”

Aku diam dalam kebingungan serta rasa penasaran yang semakin berkecambuk di hatiku, dan wanita itu pun datang dengan balutan kebaya serta selendang panjang berwarna putih. Jantungku pun tiba-tiba berdetak kencang, darahku berdesir ke seluruh badan, keringat dingin membasahi dahi dan telapak tangan, duhai begitu cantiknya wanita yang kini telah berada di sampingku ini, namun aku sepertinya tak asing lagi dengan wajah yang ayu itu. Ya, dia adalah Atik adik angkatku.

“ Maafkan aku kang, kau pasti terkejut dengan semua ini. Perlu kau ketahui, bahwa selama ini kau telah meneteskan manisnya cinta di hatiku. Dengan kesederhanaanmu, dengan perangaimu dan ketulusanmu, maka izinkan hati ini bersama hatimu, melebur menjadi satu dan merubah rasa cinta ini menjadi cinta dari seorang kekasih kepada kekasihnya.”

Kembali, air bening menetes dari mataku, membuncahkan perasaanku, perasaan yang sejak dulu telah ku nanti untuk mengisi lubang di hati, kini rasa cinta itu benar-benar kurasa, bahkan kali ini menguasai setiap sudut di hati tak ada lagi sepi yang menyelimuti dan akhirnya Atika Permata sari adalah bidadari permataku yang kucari selama ini.

( Juara I Lomba cipta cerpen “Ajang Kreativitas dan Pengembangan bakat mahasiswa FKIP UMSU” tahun 2010)

Senin, 10 Mei 2010

Bersyukur



Udara pagi berserak , langkah kaki dalam jarak yang terjerat. Nuansa ini tak jua beranjak, enntahlah faktor apa yang sedang berkecambuk di dalam dada. Sekiranya Tuhan masih izinkan ku untuk mengulang, takdir lalu yang kusam, kan kurangkai serupa harum mawar. ah, perihku berangan sesat. tak ingin berandai-andai. menjadi pilu yang semakin menebar kelak.

Saudaraku....
begitu banyak rekaya Ilahi yang telah kita lalui,
dari butiran pasir, menjadi kumpulan dari butiran pasir-pasir.
begitulah jalan hidup ini.
tak kita sadari, waktu terus menyetubuhi jiwa dan raga kita, nafsu melalaikan kita, dan sukses menjadi harapan kita.

saudaraku..
Allah Maha Adil dan tentu akan membagikan keadilan-Nya itu bagi kita juga, tak terkecuali mereka yang jauh dari sisi-Nya,

saat pikiran terhipnotis oleh maraknya pesona dunia,
hanya satu yang harus kita ingat yakni Dia yang telah membuat kita terhipnotis dengan Maha Karya-Nya..

subhanallah..
tak ada ukiran yang lebih indah selain ukiran-Nya, tak ada cinta yang paling hakiki selain cinta-Nya, dan tak ada yang sayang melebihi kasih sayang-Nya.

SUJUD

Puing hina
menetes dari mata
bagai tak ada cahaya
bagiku di ujung derita
Tuhan
kembali aku tersungkur
tak lelah mengucap syukur

(oleh; Zuliana Ibrahim)
(terbit Medan Bisnis, Februari 2010)

Minggu, 21 Maret 2010

Kepada Turunan Adam

Jiwa yang lelah
anak cucu berkumandang resah
turunan adam
yang tak peka lagi pada dendam
terus semayamkan pengkhianatan
di malam tak pernah ada rembulan
bisikan setan makin menyesatkan
hai, cucu adam
kemana lagi kan kau selipkan keangkuhan?

Ana Ibr