(Resam Munoling)
Membaca tiap bulir padi pada telapak tanganmu,
seperti wajah-wajah tertawan di pecahan langit
alamat menanti musim dengan sekantong jantung yang pucat
maka di suatu waktu;
meronalah parasmu jadi bara menuju nadi
bibir berhambur syukur, serentak mulawi
matamu berkaca anggun
menyentil pelipis waktu dengan haru
Oi, takkan habis kata-kata mengadu tentang degup bahagia
selesailah memahat dendang di tepi seladang
pulang bersama angin-angin yang ikut berkabar
Kompak Gayo, 29/8/2013
Membaca tiap bulir padi pada telapak tanganmu,
seperti wajah-wajah tertawan di pecahan langit
alamat menanti musim dengan sekantong jantung yang pucat
maka di suatu waktu;
meronalah parasmu jadi bara menuju nadi
bibir berhambur syukur, serentak mulawi
matamu berkaca anggun
menyentil pelipis waktu dengan haru
Oi, takkan habis kata-kata mengadu tentang degup bahagia
selesailah memahat dendang di tepi seladang
pulang bersama angin-angin yang ikut berkabar
Kompak Gayo, 29/8/2013
