Syair
tua, syair duka
syair
makna, syair berkalung air mata
syair
penampung rindu yang maha daya, syair dengan tepukan irama
syair
meronta-ronta, syair nyelangsa, syair merdeka
syair
dari jelmaan ayat, syair pintu riwayat.
Menghayatimu
adalah ziarah, dari timur wajah pemuda lampau yang kusebut sebagai sejarah. riak yang berkeciprat, jiwaku hanyut
di arus peusangan yang telah dangkal. menyisirmu dari sepanjang Lut tawar, mengenangmu
sebagai negeri antara bertubuh embun segar. dengan setumpuk panen kopi, tanpa
luka dan derita telah tertimbun di bawah cemara tua.
Pagi-pagi
buta, mentari masih enggan menarik selimut pendayung sampan. beranjak menuju
perapian, pemuda kampung bersarung tua bermandikan kepul asap dan meleleh-lah
sunyi semalam berjelaga, cahaya merasuk diam-diam.
Gayo,
mengejamu dari empat rupa langit. merapal waktu dari loyang-loyang yang menenun
asal muasal. dengan sisa gerimis berkisah tentang dekade yang lewat, langkah
menuju peradaban, meramal sisa tulang
yang disebut sebagai nenek moyang.
Oi,
bersabarlah di sejarah yang retak! Katamu, di gubuk hati yang sekarat.
Bulan-bulan
mabuk arah, hari-hari jadi warna di hijau pelepah. Senja yang mendamparkan
angin rindang, malam membungkus depik dengan aroma gegarang. pada cahaya yang merangkak di ketiak sejarah.
kita kembali pada doa yang belum usai. para
pencatat memoar, nasibnya masih di kandung telaga yang kerontang. melepas lelap
di ranjang beralas dahaga, ia bangunkan malam untuk bertadarus syair. Wajahnya
tirus namun kerap menyusun senyum.
Oi,
lirik-lirik memoar sejarah, aku baca dengan hening yang rapat. Mata-mata pemuda
yang tak lekat, menghafal yang para ceh tinggalkan berupa rekam jejak. hingga,
kabar tentang periode kemerdekaan menyeruak.
Hujan
berlari, terik memikat, sejuk yang tawar, pun angin berkesiar, jadi syair yang
bening.
Jejak-jejak
paling ranum, dalam sujud yang khusuk.
dengan
sekali tepuk, ia berkumandang di kesunyian taman malam.
matanya
pisau pena tanpa tinta, lidahnya nada-nada tak perlu not irama
sepasang
telapak tangan tuanya jadi musik paling selaras.
Ia
adalah gerimis syair yang tak pernah berakhir,
hujan
liriknya jadi ziarah paling abadi.
Takengon, 09 November 2012


