.jpg)
Telah kuarungi jejak-jejak pesonamu dari ringkuhan hamba yang terhipnotis bahasa cinta. Dalam kelekar yang bertajuk keabadian, hanya buih-buih rona yang terpancar seketika menyeretku dalam keheningan malam. Semesta seakan mencakar keberadaanku sebagai hamba yang tengah berada pada keputusasaan, ya… hanya segelincir harapan yang sebenarnya ingin kutorehkan, namun desah hidup ini semakin kurasa, melucuti jiwa dan raga. Tiap detak nadi perputarannya mengerayangi asaku yang mulai terjelabak dan sia-sia penantianku, yang ternyata hanya menoreh luka.
Kucoba semai kembali lewat peraduan ini, tak ingin buru-buru mendermagakan kasih yang perlahan-lahan memudar di senja yang kering. Malam semakin kental, tak ada lagi suara deru dari mesin kendaraan yang biasa melintas di depan rumahku. Sayup-sayup suara binatang malam mulai menghiasi indahnya di kegelapan yang kelam, Kesendirianku lah yang menciptakan kekelaman itu, kesendirianku semakin terasa di ufuk derita, derita yang menganga di relung hati sang pemuja. Tepi hidupku semakin terasa tapi aku harus tetap sadar bahwa ada beban yang melekat di pundakku, pundak kerapuhanku.
* * *
“ Jangan sentuh anakku!” Gertakku, tanpa menghiraukan keberadaannya di dalam hidupku. Segera kuraih tangan mungilnya seraya melihat tatapan polosnya yang kuyakin ia belum mampu merekam peristiwa pahit ini.
“ Kau yakin, tak ingin memberikannya?” Ia semakin garang kulihat dan tanpa berpikir panjang dengan segera kubawa lari tubuh bayi itu dengan tangan kebodohanku.
“ Larilah bodoh! Jangan kembali lagi. Aku ceraikan kau!” Teriaknya menyemai pilu di hatiku. Dan meluncurlah air mata dari sudut kepedihanku.
Termakan rayuan cinta, yang akhirnya menyengsarakan jiwa. Segala kepedihan itu kini telah kurasa, penghianatan kukecap dengan pahitnya. Sosok itu tak lagi seindah merpati putih yang melintas di hatiku, kini sosok itu telah serupa dengan elang yang mencari mangsa dengan tatapannya yang tajam. Ia garang, tubuhnya yang kekar seolah ingin mencakar. Matanya yang teduh berubah ganas. Ia bukan Fikar, ia bukanlah lagi suamiku yang dulu, sosok yang kukagumi itu telah menghilang menyelinap masuk ke raga lain, aku yakin itu, namun siapakah sekarang yang sedang merasuki raga Bang Fikar suamiku? Aku yakin iblis yang telah merasukinya dan membuang jauh sikap lembutnya suamiku.
“ Apa kabarmu Dinda? Aku titipkan Ruli padamu, kumohon jangan rindukan aku.” Seketika kurasakan ada bisikan hangat di telingaku dan ternyata kusadari itu hanya ada di dalam mimpi. Airmata pun tak pernah kering mengalir dari kepedihan hati.
Berita kali ini benar-benar membuatku tercengang. Buat keyakinanku semakin kuat bahwa sosok itu pasti bukan Bang Fikar, yang sempat kukagumi perangainya, kukecup tangannya, kuabdikan diriku untuk mendampinginya sebagai istri.
“ Hana, cepat lihat berita di televisi, ada orang yang bernama Fikar di tembak mati oleh polisi, karena berusaha lari saat ketahuan telah membobol sebuah atm bank, kulihat itu adalah Fikar, mantan suamimu.” Jelas seorang tetangga padaku.
Batinku menjerit, tak kuasa melihat apa yang sedang kulihat. Dimana sebenarnya Bang Fikarku, Dimana Tuhan pindahkan jiwanya? Ia telah berubah, sungguh berubah.
* * *
“Jangan menangis Dinda! Usap lah airmatamu.”
“ Aku sedih melihatmu Bang.” Ucapku sendu
“ Dengarlah, jadikan aku sebagai pelajaran bagimu.”
Aku tersadar dari tidur pulasku, Bang Fikar kembali hadir di dalam mimpiku, mimpi yang luruhkan jiwa dan batinku.
* * *
Malam ini aku akan menemui Bang Fikar lagi di dalam mimpi, matanya yang sendu tampak di mataku, namun ada segurat sikap sinis terlontar ketika aku mulai bertanya akan perubahan sikapnya, yang mengundang beribu tanya.
“Apa yang terjadi padamu Bang? Mulanya aku terkejut ketika kau berani ingin memukul kasar anakmu sendiri, lantas kemudian sekarang kau berani melakukan hal kotor yang tak sepantasnya dilakukan oleh orang yang mengerti agama sepertimu.” Tanyaku penuh kecewa dengan sikapnya,
“ Diam!” Ucapnya kasar padaku.
“Aku butuh penjelasanmu! Sebenarnya aku masih menginginkanmu, namun dengan perubahanmu yang tak dapat kutoleransi lagi,..” Belum selesai aku berbicara ia memotongnya.
“ Bagus!” Kembali ia melontarkan sepatah kata, yang buatku kecewa.
“ Bisakah kau jelaskan semua Bang? Aku butuh penjelasanmu.” Aku bersikeras.
Ia pun menarik nafas panjang, kali ini gurat di wajahnya tak berupa, air mukanya menjadi beraneka ragam. Terkadang ia akan senyum sendiri, melongos, sempoyongan, bahkan menggertak. Lama kami dalam diam, ia pun akhirnya buka suara.
“ Aku tak tahan hidup seperti ini. Aku butuh uang, aku ingin menjadi jutawan. Aku tak terima hidup miskin terus di bumi ini. Mereka menginjak-injakku, menjadikanku budak, seenaknya padaku, meludahi wajahku, akh……” tiba-tiba ia gusar, brutal, dan memaki-makiku.
“ Tuhan, ada apa dengan Bang Fikar? Dia sudah gila, jiwanya kering keronta, tak ada cahaya. Aku pun pergi meninggalkank dirinya tak peduli, dan tersadar dari mimpi.
Aku tak percaya, kadang Bang Fikar hadir di dalam mimpi bagaikan bidadari, namun tak pelak juga serupa algojo yang tak punya hati. Aku tak pula berharap ada lelaki lain yang datang menjadi pengganti, yang kuharap hanya Bang Fikar untuk tetap hadir dalam mimpi, dengan perangainya yang serupa bidadari. Aku begitu merindukannya, rindu akan suami yang pernah mengisi relung hati. Rindu sosoknya yang penuh dengan cahaya, tak terbesit sedikitpun prasangka bagi siapa saja yang melihatnya, entahlah Tuhan memang punya rencana bagi dirinya. Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan mengampuni dosanya dan memberikan tempat di sisi-Nya.
Malam selanjutnya kembali menjelang, bulan pun kembali menyampaikan senyuman, senyuman menuju masa depan. Tak lagi memeluk kelam. Aku tetap yakin, kini kerinduan akan belaian ini tak akan lagi datang mendekat, cukup pelukan Bang Fikar yang tentunya dengan kelembutan kerap hadir di dalam mimpi yang menjadi pembalut kesepian hati, meski dalam sadar Bang Fikar tak lagi ada di sisi karena sikapnya yang telah terhipnotis kenikmatan duniawi. Aku larut menimang mimpi di dalam diri.
Ranah Kompak, 2010