
Mengeja Tawa
Dari tepi Burni Telong
kueja butiran tawa bening
menyapu peluh dari tapak pendaki pemburu kopi
dalam persetubuhan bumi mentari
kembali kueja pagi
di bawahnya kudendangkan syair rindu
iringi nada cincimpala merdu
selangsa sorak beriring
dari para pemuda kampung bermain teganing
merakit sejarah yang hampir punah
racikan aroma cah ikut merekah
tetap mengeja tawa
yang syarat akan makna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar