Rabu, 13 Oktober 2010


Mengeja Tawa

Dari tepi Burni Telong
kueja butiran tawa bening
menyapu peluh dari tapak pendaki
pemburu kopi
dalam persetubuhan bumi mentari
kembali kueja pagi

di bawahnya kudendangkan syair rindu
iringi nada cincimpala merdu

selangsa sorak beriring
dari para pemuda kampung bermain teganing
merakit sejarah yang hampir punah
racikan aroma cah ikut merekah
tetap mengeja tawa
yang syarat akan makna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar