
Sujudku mulai patah, Tuhan
saat jemariku seakan lekang menghitung asma-Mu
lisanku terkunci tanpa sadar terhipnotis ramuan indah Maha Karya-Mu
gelapku telah runtuh, Tuhan
langkah kakiku terjepit di antara batuan mutiara yang kau gelimangkan di dunia
otakku mengeram tak membayang Kau lah penunjuk jalan
jiwaku terbunuh, Tuhan
Pada setiap ketiak takdir yang kau sematkan
pada perut bumi yang kan jadi saksi peraduan
batinku terpelosok dalam kelambu belantara kehampaan
Aku lah, Tuhan
aku lah, Tuhan
dan aku lah ,Tuhan
Yang terdampar pada trotoar kerugian
mengapit sendu yang terbawa-bawa menuju pengadilan.
( Terilhami dari Q.S Al-‘Asr)


