Minggu, 17 Oktober 2010

penyesalan


Sujudku mulai patah, Tuhan
saat jemariku seakan lekang menghitung asma-Mu
lisanku terkunci tanpa sadar terhipnotis ramuan indah Maha Karya-Mu

gelapku telah runtuh, Tuhan
langkah kakiku terjepit di antara batuan mutiara yang kau gelimangkan di dunia
otakku mengeram tak membayang Kau lah penunjuk jalan

jiwaku terbunuh, Tuhan
Pada setiap ketiak takdir yang kau sematkan
pada perut bumi yang kan jadi saksi peraduan
batinku terpelosok dalam kelambu belantara kehampaan

Aku lah, Tuhan
aku lah, Tuhan
dan aku lah ,Tuhan
Yang terdampar pada trotoar kerugian
mengapit sendu yang terbawa-bawa menuju pengadilan.

( Terilhami dari Q.S Al-‘Asr)

Rabu, 13 Oktober 2010


Mengeja Tawa

Dari tepi Burni Telong
kueja butiran tawa bening
menyapu peluh dari tapak pendaki
pemburu kopi
dalam persetubuhan bumi mentari
kembali kueja pagi

di bawahnya kudendangkan syair rindu
iringi nada cincimpala merdu

selangsa sorak beriring
dari para pemuda kampung bermain teganing
merakit sejarah yang hampir punah
racikan aroma cah ikut merekah
tetap mengeja tawa
yang syarat akan makna

Selasa, 12 Oktober 2010

Dua Pasang Mata


Dua pasang mata bertebaran di hulu sungai
memercikkan bayang-bayang resah
para pemungut malam penantian

dua pasang mata saling mengundang tanya
tetap sikukuh kerlingan dari kelopak bara
menari lah para pendatang surga berebut tinta
hendak menggores apa-apa telah tersirat dari dua pasang mata

yah, hanya ada dua pasang mata.

Selasa, 05 Oktober 2010

Bulan Retak Seribu


sejak kemarin hanya titipan senyummu yang masuk ke dalam rongga cahaya kelamku, meneguk beberapa pertemuan kita sempat lalu, hatiku pun berguguran di atas sesal hendak menjabah gelisah yang kian menebal. Pula tak lagi ada kumandang darimu mengiba sebab cukup sudah penantian ini teraba aku pun kembali tak ayal menyimpan rupa, namun kembali kau memanggil-manggilku dalam diam hatimu, tatapan rindulah yang akhirnya membawaku kembali terjerumus dalam pangkuanmu.. pangkuan bulan retak seribu...

Minggu, 03 Oktober 2010

Kisah di Perempatan Waktu


Malam menyelimutiku dengan kelam
udara sesak menghimpitku dalam belenggu rindu

tawa kita tak lagi dapat beradu
sebab senja telah mengurung pertemuan antara kau dan aku

bukannya aku ingin memetik beberapa rindu
yang telah menjamur di kalbu
hanya ingin menoreh sebentar ke belakang
melirik kisah yang telah berada di perempatan waktu