Minggu, 09 Februari 2014

Ziarah Syair Sejarah





Syair tua, syair duka
syair makna, syair berkalung air mata 
syair penampung rindu yang maha daya, syair dengan tepukan irama
syair meronta-ronta, syair nyelangsa, syair merdeka
syair dari jelmaan ayat, syair pintu riwayat.

Menghayatimu adalah ziarah, dari timur wajah pemuda lampau yang kusebut sebagai  sejarah. riak yang berkeciprat, jiwaku hanyut di arus peusangan yang telah dangkal. menyisirmu dari sepanjang Lut tawar, mengenangmu sebagai negeri antara bertubuh embun segar. dengan setumpuk panen kopi, tanpa luka dan derita telah tertimbun di bawah cemara tua.
Pagi-pagi buta, mentari masih enggan menarik selimut pendayung sampan. beranjak menuju perapian, pemuda kampung bersarung tua bermandikan kepul asap dan meleleh-lah sunyi semalam berjelaga, cahaya merasuk diam-diam.
Gayo, mengejamu dari empat rupa langit. merapal waktu dari loyang-loyang yang menenun asal muasal. dengan sisa gerimis berkisah tentang dekade yang lewat, langkah menuju peradaban,  meramal sisa tulang yang disebut sebagai nenek moyang.
Oi, bersabarlah di sejarah yang retak! Katamu, di gubuk hati yang sekarat.
Bulan-bulan mabuk arah, hari-hari jadi warna di hijau pelepah. Senja yang mendamparkan angin rindang, malam membungkus depik dengan aroma gegarang.  pada cahaya yang merangkak di ketiak sejarah. kita  kembali pada doa yang belum usai. para pencatat memoar, nasibnya masih di kandung telaga yang kerontang. melepas lelap di ranjang beralas dahaga, ia bangunkan malam untuk bertadarus syair. Wajahnya tirus namun kerap menyusun senyum.
Oi, lirik-lirik memoar sejarah, aku baca dengan hening yang rapat. Mata-mata pemuda yang tak lekat, menghafal yang para ceh tinggalkan berupa rekam jejak. hingga, kabar tentang periode kemerdekaan menyeruak.
Hujan berlari, terik memikat, sejuk yang tawar, pun angin berkesiar, jadi syair yang bening.
Jejak-jejak paling ranum, dalam sujud yang khusuk.
dengan sekali tepuk, ia berkumandang di kesunyian taman malam.
matanya pisau pena tanpa tinta, lidahnya nada-nada tak perlu not irama
sepasang telapak tangan tuanya jadi musik paling selaras.
Ia adalah gerimis syair yang tak pernah berakhir,
hujan liriknya jadi ziarah paling abadi.


                                                        Takengon, 09 November 2012

Rabu, 05 Februari 2014

Sunyi di Jantung Cita

             Kesunyian bagiku seperti detak jarum jam, waktu-waktu habis di detik menuju menit dan jam per jamnya. Akhir-akhir ini, aku seperti begitu berkarib dengan sunyi. Memaksaku pulang menuju kamar, menyendiri. Sangat suka menyendiri.

            Sejak kuputuskan untuk kembali ke kampung halaman, Desember 2012 lalu. Awal kutemukan bagaimana sunyi jadi keseharian yang bermusim. Tak lagi berpredikat mahasiswa, pun tak memiliki pekerjaan yang dapat menyita waktuku, seperti lalu-lalu di rantauan. Ini seperti bukan tempatku, begitu jenuh! sangat buat jenuh! menurutku. Beberapanya hanya serupa kesia-siaan. Aku merugi! merasa begitu merugi! Tuhanku, telah mengingat itu dalam firmanNya. namun aku begitu lengah.

          Ini puncakku, terlalu terbuai dengan sekitarku. Orang-orang terdekatku yang biasa saja, tak memotivasi terlalu acuh. Mimpiku, masih begitu ranum. Masih di  pucuk mata. Aku tak ingin melepasnya dan menerbangkannya. harus kugenggam, cita-cita itu.
     
          Selain KOMPAK (Kota Medan), kini aku memang punya keluarga baru. Memotivasiku untuk terus menjamahi kata-kata, menyetubuhi makna dan melahirkan karya. Namun entah mengapa, tiga bulan terakhir ini, aku pun jarang berkunjung ke kebun kata-katanya. Kebun kata-kata yang sebenarnya paling subur. Aku dalam jenuh, entahlah aku tak mengerti. jenuh dengan kegiatanku yang begitu-begitu saja? atau jenuh dengan pekerjaanku? ah, mungkin. sungguh maafkan aku. (aku ingin menangis, karena sudah jarang menulis T_T)

         Cita-citaku di tahun 2014 ini, mulai dari cita-cita yang begitu sederhana. Pada  1 Januari 2014, cita-cita sederhanaku tercapai. Mendaki ke Bur Gayo, berdiri di antara Grafiti Gayo Highland. Lalu 1 Februari 2014, menjenguk keluarga KOMPAK-ku yang hampir 1 tahun tak pernah lagi kukunjungi. (ah, tetaslah rindu itu). Inilah mimpi-mimpi sederhana itu, begitu sederhana.


       
         
          Mendekap sunyi, bagiku menjadi teman terbaiknya adalah buku, musik dan tempat makan (cafe/restauran). Di sana, kesunyian tidaklah jadi terlalu ironis. Kesunyian tak begitu tampak, sewarna lampu yang temaram di bawah sinar rembulan.


   











                                                                                                                 
 Kesunyian menjadi lebih padu, pada petang di temani kopi atau di siang hari duduk di sudut cafe dengan meja berantakan, sepulang dari toko buku. Ah, sungguh manis :)




  Masih di tahun 2014, begitu banyak mimpi yang telah terajut pada semangatku. Perlahan ingin kurealisasikan. Ingin segera menggapai cita, sungguh kuberharap itu jadi waktu yang memisahkanku dengan kesunyian :)

                                                                    Kamar redup, malam 5/2/2014