Minggu, 20 Juni 2010

Permata Tak Terduga


Subuh ini masih berpagut mimpi. Derasnya bendungan awan yang pecah semalam, menggugurkan ranting-ranting di dahan kering bahkan lembaran daun-daun segar banyak yang jatuh berserakan memenuhi hamparan halaman. Ditambah dengan udara pagi yang terus menerus menampar wajahku dengan lembut menerobos masuk ke pori-poriku yang terbuka menganga tanpa selembarpun balutan kain hangat, adalah suatu hal yang telah biasa bagiku untuk membiarkan udara dingin itu menyetubuhiku di setiap waktu.

Namun sosok itu masih saja setia dengan kegiatan rutinnya, subuh yang begitu akrab baginya untuk melafazkan asma-asma indah milik-Nya, bibir yang basah dengan syahadath, tenggorokan kering tak lelah berdzikir. Mencium dengan takdzim sajadah panjang yang tergelar di hadapannya.

Nyawa yang hidup penuh cinta. Dengan mata yang masih sangat kantuk, samar-samar ku tatap wajahnya yang begitu bersahaja di balik mukena putihnya. Doa dari setiap gerak bibir tipisnya bisa kurasa, kutemui begitu banyak makna di sana, makna dari kebaradaanku ditengah hidupnya. Lamunanku seketika mendarat, saat ia akhirnya beranjak dari tempat simpuhannya.

“Tes…tes…tes…”

Sisa hujan, agaknya masih terus merembes masuk lewat atap rumah yang telah rusak. Kata ibu hari ini, ia akan membeli sebuah seng bekas untuk menempeli atap tersebut dari uang sisa penjualan sayur hasil kebun kecil kami di belakang rumah.

Dengan senyumnya yang merekah, ia berlalu dari penglihatanku. Sosoknya menghilang di balik lebatnya kabut pagi, aku tahu ibu Pasti akan mengambil air di sumur yang letaknya lumayan jauh dari rumah kami.

# # #

Hidup dengan deraian air mata, hanya menambah beban derita. Memperpanjang pilu di dada, dan menggores luka hingga tak ada lagi cerita. Perjuangan memang tak mudah, namun setiap langkah dengan usaha dan doa akan membawa ke jalan yang penuh dengan cahaya.

“Syukuri anugerah yang telah diberi untuk mencari cinta yang benar-benar hakiki.” Pesan singkat ibu yang terniang di setiap waktu.

# # #

Aku sendiri tak akan mencari jawab dalam sunyi, walau rindu semakin bergelayut dalam penantian yang kurasa begitu panjang dan hari-hari kian di tantang oleh kesepian.

“ Bu, maukah besok menemaniku untuk menemui Marni?” tanyaku dengan penuh harapan.

“ Kau sudah yakin?” Ibu malah balik bertanya padaku.

Kumantapkan hatiku dengan senyum kepastian, kuanggukan kepala. Ibu pasti mengerti maksudku.

“Pemuda tak tahu diri, apa maksudmu berani melamarku menjadi istrimu? Ingin menghancurkan hidupku?” Cetus wanita muda manis yang sebelumnya begitu perhatian padaku.

“Kau tak pantas untukku Bon. Aku menganggapmu hanya sebagai teman, tidak lebih. Kuburlah dalam-dalam niatmu itu.”

Seketika kurasakan perubahan pada diri Marni, ia bukan seperti Marni yang kukenal dulu, gadis manis yang terdidik dan berbudi pekerti itu tak ada lagi. tatapan matanya penuh kebencian padaku, apalagi kata-katanya yang tega menelanjangi harga diriku. Bukan hanya itu, kembali aku dengan tega merobohkan hati ibu lagi.

“ Hentikan Bon! Ibu tak ingin orang lain seenaknya lagi dengan kita, biarlah kelak bidadari yang kau nanti akan datang sendiri.” Emosi ibu memuncak.

Aku dan perasaanku menunduk, terduduk dalam pangkuan kebungkaman.

# # #

Kabut itu kini mulai memudar. Walau belum ada waktu yang mempertemukan aku pada bidadariku, aku yakin Tuhan MahaAdil dan akan membagikan keadilan-Nya itu pula padaku.

Sebuah kabar yang begitu mengembirakan bagiku dan ibuku, karena adikku Atik akan pulang menemui kami di gubuk yang tak seberapa ini. Sejak pernikahannya dengan Odi, anak kota yang ia kenal saat ia bekerja. Ia belum pernah sekalipun menemui kami di kampung, namun ternyata kedatangannya mengungkapkan goresan luka yang ia endap selama ini. Pernikahannya telah berakhir di meja hijau, suaminya tega mengkhianti cintanya dan membina rumah tangga lagi bersama wanita lain.

Kasihan ibu yang telah bersusah payah memelihara anaknya, namun tak luput juga dari derita. Atik memang bukan anak kandung ibu, ia dilahirkan oleh sahabat karibnya yang telah meninggal dunia tepat ketika Atik berusia 15 tahun pada saat itu. Sungguh Ilahi telah menentukan sendiri takdir hidup seorang insani.

Siang ini udara lembab tak ada lagi telah dijilati oleh mentari pagi, kini mentari itu pun begitu bergairah memancarkan sinarnya. Aku yakin ibu dan Atik pasti kelelahan menjadi buruh sawit di kebun milik Pak Amat. Sedang aku tetap saja di rumah, tak bisa berbuat apa-apa. Selain memanfaatkan kemampuanku membuat perahu mainan dari bambu dan tempurung kelapa, pekerjaanku ini rutin kulakukan, maka tak jarang aku pun harus merepotkan ibu untuk mencari bambu yang tak berguna lagi. Pemasarannya pun aku juga harus dibantu ibu dan Atik, syukur jika ada pembeli jika tidak, perahu-perahu itu hanya dapat terdampar di dalam keranjang.

Aku memang pemuda yang tak berguna, hari-hari hanya bisa melihat ibu dan Atik banting tulang mencari nafkah. Harusnya aku lah sebagai pemimpin keluarga pengganti almarhum ayah yang telah tiada, namun ketakberdayaanku sebagai manusia tak bisa membuatku punya daya.

Saban hari aku semakin di rundung sepi dan kesepian itu semakin menghujam hidupku, itu terjadi ketika Atik memutuskan untuk menikah kembali.

Lalu kapan Tuhan akan menghadirkan bidadari untukku? Umurku sudah tak muda lagi, aku tak mungkin selamanya bergantung pada ibu yang semakin termakan usia. Apalagi Atik, tentu ia akan dibawa pergi oleh suaminya nanti.

Mungkinkah memang tak ada bidadari untuk orang hina seperti aku ini? Pemuda lemah yang hanya mampu bersandar pada kursi roda yang telah setia menjadi tumpanganku sejak penyakit lumpuh yang mengerayangi kakiku di umurku yang ke 12 tahun.

Pipiku basah oleh tetesan bening yang telah membendung lama di sudut mata. Aku menatap diri di depan cermin, masuki dunia imajinasi seolah menjadi pemuda yang gagah berani dan tak punya sedikitpun kelemahan di setiap sisi.

“ Astaghfirullah, ampun Ya Rabb.” Batinku berucap, aku telah durhaka mengingkari nikmat yang telah ada.

# # #

Malam menyelinap masuk, udara dingin kembali merasuk.

“ Ibon, kau sadar bahwa salah satu bintang di sana tengah memberikan sebuah senyuman untukmu?” Ucap ibu seraya memberikan belaian hangatnya padaku.

“ Maksud ibu?” Tanyaku tak mengerti.

“ Rembulan yang bercahaya indah memang tak ada, namun bintang- bintang tetap menghadirkan cahayanya walau dari kejauhan.”

Aku semakin tak mengerti maksud pembicaraan ibu,dan dengan seksama kudengarkan lanjutan dari pembicaraan ibu.

“ Sabarlah anakku, jauh disana ada bidadari yang juga sedang mencarimu dan yakinlah bahwa Tuhan akan hadirkan sosok itu walau tak seindah bidadari syurga.”

Perlahan aku mulai paham maksud ibu, selama ini aku terlalu berharap bahwa yang menjadi bidadariku adalah wanita yang penuh dengan kesempurnaan, kecantikan, kepandaian tak ada sedikitpun kekurangan. Karena aku berharap wanita yang akan mendampingi hidupku akan dapat menutupi kekuranganku.

Aku tak berpikir, sudikah sosok itu mendampingi hidupku? Aku hanyalah debu yang seenaknya di terbangankan oleh angin kemanapun, dari tanah, sepatu sampai ke tempat sampah. Sedangkan wanita yang kuharap adalah mutiara, sungguh tak ada malunya diriku ini.

“ Ibu, salahkah aku mengharap yang datang kelak memang sosok yang seindah mutiara?”

Ibu tersenyum dan kembali membelai kepalaku.

“ Tidak anakku, kau tak salah. Namun cobalah buka hati dan pikiranmu, dari sekian mutiara yang kau harap tak ada satu pun yang menyambut kedatanganmu. Takkah kau berpikir bahwa masih ada permata yang rupanya tak kalah indah dengan mutiara?”

Ah, seketika khayalku tersendat dan menyadari bahwa perkataan ibu ada benarnya juga. Selama ini aku memang terlalu sombong mengharap sesuatu yang tak mungkin ku dapat. Jangankan sesosok seindah mutiara, seindah permata saja belum tentu akan kudapat.

“ Kau ingin wanita seindah permata itu ?”

“Mungkinkah permata itu ada untukku, Bu?” Aku merasa ragu.

Kali ini ibu mendaratkan ciuman hangatnya di dahiku, aku merasakan cinta bunda yang merasuk ke jiwa.

# # #

Pagi ini suasana rumah terlihat sangat sibuk, tikar-tikar bagus tampak digelar di setiap ruangan. Ibu tampak terburu-buru seperti dikejar waktu, ia juga tidak melupakan aku, selesai mandi aku diberi sebuah baju koko dan kopiah baru. Aku bingung, karena sejak tadi ibu belum mejelaskan sepatah katapun padaku.

“ Ibon, kau siap?” Ibu bertanya padaku.

“Maksud ibu?”

“ Kau akan menikah anakku.” Jelas ibu dengan senyum bahagianya.

“ Kau tunggu disini, sebentar lagi bidadari permatamu akan ada di sampingmu. Kau percaya pada Ibu kan? Percayalah kau pasti menyukai permata ini.”

Aku diam dalam kebingungan serta rasa penasaran yang semakin berkecambuk di hatiku, dan wanita itu pun datang dengan balutan kebaya serta selendang panjang berwarna putih. Jantungku pun tiba-tiba berdetak kencang, darahku berdesir ke seluruh badan, keringat dingin membasahi dahi dan telapak tangan, duhai begitu cantiknya wanita yang kini telah berada di sampingku ini, namun aku sepertinya tak asing lagi dengan wajah yang ayu itu. Ya, dia adalah Atik adik angkatku.

“ Maafkan aku kang, kau pasti terkejut dengan semua ini. Perlu kau ketahui, bahwa selama ini kau telah meneteskan manisnya cinta di hatiku. Dengan kesederhanaanmu, dengan perangaimu dan ketulusanmu, maka izinkan hati ini bersama hatimu, melebur menjadi satu dan merubah rasa cinta ini menjadi cinta dari seorang kekasih kepada kekasihnya.”

Kembali, air bening menetes dari mataku, membuncahkan perasaanku, perasaan yang sejak dulu telah ku nanti untuk mengisi lubang di hati, kini rasa cinta itu benar-benar kurasa, bahkan kali ini menguasai setiap sudut di hati tak ada lagi sepi yang menyelimuti dan akhirnya Atika Permata sari adalah bidadari permataku yang kucari selama ini.

( Juara I Lomba cipta cerpen “Ajang Kreativitas dan Pengembangan bakat mahasiswa FKIP UMSU” tahun 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar