
Seraya membawa tas ransel yang berisi berbagai buku mengenai Sastra Indonesia, yang lumayan berat untuk dibawa oleh seorang mahasiswi bertubuh kecil sepertiku. Dengan tergopoh-gopoh kupercepat langkah menuju persimpangan jalan untuk menunggu angkot yang akan membawaku ke kampus tempat sebuah seminar sastra akan diadakan. Beberapa menit lamanya, belum juga muncul nomor angkot yang kuinginkan. Rasa letih meradang di kakiku yang sedari tadi menopang tubuhku berdiri di bawah sinar mentari yang mulai menyengat di siang hari ini. Happ! Segera kulambai tanganku ketika sebuah angkot bernomor yang memang kutunggu kehadirannya tepat melintas di depanku.
“Allahu akbar!” Aku tersentak. Belum sempat kurebahkan tubuhku di kursi angkot, sang sopir langsung tancap gas melaju cepat. Dengan perasaan dongkol, kuatur posisi duduk yang nyaman. Tampaklah olehku seorang pria beruban dengan setelan kemeja putih lengan panjang, celana keper hitam, sepatu yang lumayan berkilat dan membawa sebuah tas, persis seperti seorang pengajar. Ia pun memberikan senyumannya padaku dan aku pun membalas dengan sekenanya. Barulah kusadari ternyata di dalam angkot hanya ada dua penumpang yakni aku dan pria beruban tersebut.
“ Hati-hati! Ini kota besar Ra, banyak orang yang melakukan kejahatan secara transparan di sini. Jangan mudah percaya dengan penampilan seseorang, sejujurnya sekarang ini penampilan merupakan usaha untuk menyembunyikan kebohongan diri.” Nasehat Kak Windra seketika mendarat di ingatanku. Sebagai anak rantauan yang tak tahu apa-apa, tentu aku harus berhati-hati.
Tiba-tiba jantungku berdegup kencang, keringat dingin mulai menjalar dari dahi dan telapak tanganku. Kecurigaanku tiba-tiba saja muncul pada pria beruban yang tengah duduk tepat di hadapanku. Entahlah, tiba-tiba aku menjadi paranoid begini.
“ Mau kuliah, Dik?” Ia memulai pembicaraan denganku,
“ Iya, Pak!” Jawabku singkat, dengan mencoba menatap kedua matanya yang tajam kurasa.
“ Fakultas apa?” Ia kembali bertanya yang semakin membuatku curiga kepadanya, sekilas terpikir olehku, mungkin saja ini adalah trik untuk memulai aksinya. Oh Tuhan, jantungku semakin berdegup kencang. Aku takut, kalau-kalau pria beruban ini sedang berusaha menghipnotisku kemudian dengan seenaknya ia akan mengambil barang-barang milikku.
“ Jangan tatap matanya!” Kak Windra pernah berpesan begitu padaku sebab katanya orang dapat dengan mudah menghipnotis kita melalui tatapan mata.
“FBS, Pak!” Kembali kujawab dengan singkat pertanyaannya dan tentunya tanpa melihat matanya. Aih… tindakan ini sungguh tak sopan kurasa, selain berbohong, aku juga berbicara dengannya tanpa melihat wajahnya sama sekali. Hati kecilku sebenarnya berontak, namun apa daya ketakutanku mengalahkan semua.
Perasaanku semakin tak tenang, perjalananku menuju kampus tempat seminar berlangsung masih jauh letaknya dari tempatku sekarang. Tak mungkin aku turun di sini untuk menunggu angkot lain, sedang angkot yang kunaiki sekarang saja, aku harus menunggu kurang lebih sampai sepuluh menit lamanya, apalagi acara seminarnya akan dimulai sekitar lima belas menit lagi. Ia terus tersenyum melihatku, dengan sembunyi-sembunyi aku memperhatikan tingkahnya itu, dan dengan sigap aku berusaha mengontrol diri agar tidak terlihat sebagai anak polos yang baru datang ke kota.
Tak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mulut pria beruban tersebut, agaknya ia sedang menikmati betul perjalanannya bersama angkot yang membawa kami. Tiba di sebuah jalan besar, seorang gadis muda berkacamata dengan rambutnya yang terlihat masih basah dan dibiarkan tergurai begitu saja, melambaikan tangannya pada angkot kami. “ Syukurlah!” Batinku berucap, akhirnya ada juga penumpang lainnya.
Begitulah seterusnya, pria beruban pun tak lagi mengeluarkan kata-kata sampai akhirnya aku pun sampai di tempat tujuanku. Ketika aku turun dari angkot, pria beruban yang membuatku curiga itu pun melirikku. Aku tak peduli.
* * *
Hari-hariku kulalui seperti biasa, mengikuti perkuliahan, aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan dan tetap pula aktif mengikuti seminar-seminar di berbagai universitas.
“ Pak Asrul sakit, jadi beliau untuk beberapa pertemuan tidak bisa masuk!” Begitulah relator kelas kami memberi informasi. Kasihan Pak Asrul, dosen sastra itu harus dirawat di sebuah rumah sakit karena penyakit kolestrol yang dideritanya. Padahal mahasiswa sangat mengidolakan beliau, peengetahuan sastranya yang begitu luas serta karya-karya sastranya yag banyak terbit di media masa menjadikan beliau begitu popular di fakultas kami.
Sedang serius membicarakan keadaan Pak Asrul, tiba-tiba seorang pria dengan setelan baju batik, celana keper hitam, sepatu yang lumayan berkilat dan membawa sebuah tas, mengetuk kelas kami.
“ Selamat siang!” Sapanya kepada kami semua.
“ Selamat siang, Pak!” Sahut kami serentak.
“ Kenalkan, saya Pak Johar. Saya dosen sementara pengganti Pak Asrul. “
“Oh, ternyata Bapak yang bernama Pak Johar. Maaf Pak kami tidak tahu, kami juga
diberitahu oleh bidang administrasi baru tadi pagi.” Jelas relator kelas kami.
“ Baiklah tidak apa-apa, sebelum kita mulai perkuliahan hari ini. Ada baiknya kita berdoa terlebih dahulu menurut agama masing-masing.” Kami tertegun, jarang sekali dosen yang masuk ke kelas kami melakukan hal ini.
Usai berdoa, Pak Johar kemudian mengabsen kami satu persatu.
“ Sara wanate!” Giliran namaku di panggil, kuangkat telapak tanganku sebagai petanda bahwa aku hadir di dalam perkuliahan hari ini. Pak Johar memandangku dengan lekat, tak lama kemudian tergurat senyuman tipis dari bibirnya. Kebingungan pun menyelimuti benakku.
Beliau melakukan kegiatan perkuliahan dengan runtun sekali, sesekali beliau menyelangi perkuliahan dengan candaan ringan yang membuat kami geli dan akhirnya perkuliahan hari ini pun selesai, berhamburanlah para mahasiswa menuju pintu keluar kelas, perasaan aneh, curiga serta bingung masih berkecambuk di hatiku karena prilaku Pak Johar yang menurutku aneh padaku.
* * *
Malam mengetuk pintu langit, menyelinap masuk menebar aroma kentalnya udara malam di bawah rimbun pohon yang tepat berada di luar depan kamarku. Bintang juga tak mau tinggal untuk ikut andil, dengan setia menghiasi malam dengan cahaya kelap kelipnya.
Besok Pak Johar kembali masuk ke kelas kami dan tentunya dengan sikapnya yang masih mengundang pertanyaan besar di benakku.
* * *
Mukaku memerah, kembali kurasakan keringat dingin menjalar dari dahi dan telapak tanganku seperti kejadian waktu itu. Betapa tidak, aku terperanjat melihat Pak Johar dengan penampilannya pagi ini. Setelan yang ia gunakan mengembalikan memoriku yang sempat terkubur dulu.
Kembali ia tersenyum melihatku, kini ia pasti tahu bahwa saat itu aku berbohong padanya. Tak sabar menunggu waktu istirahat , niatku untuk menjelaskan padnya sudah tak terbendung lagi. “ Ada apa Saudara Sara? Anda terlihat gelisah?” Tiba-tiba beliau bertanya padaku, agaknya ia memperhatikan tingkahku. Aku pun hanya dapat tertunduk dan tersenyum malu.
Ranah Kompak, Juni 2010
(Terbit di Medan Bisnis, 13 Juni 2010)