Rabu, 05 Februari 2014

Sunyi di Jantung Cita

             Kesunyian bagiku seperti detak jarum jam, waktu-waktu habis di detik menuju menit dan jam per jamnya. Akhir-akhir ini, aku seperti begitu berkarib dengan sunyi. Memaksaku pulang menuju kamar, menyendiri. Sangat suka menyendiri.

            Sejak kuputuskan untuk kembali ke kampung halaman, Desember 2012 lalu. Awal kutemukan bagaimana sunyi jadi keseharian yang bermusim. Tak lagi berpredikat mahasiswa, pun tak memiliki pekerjaan yang dapat menyita waktuku, seperti lalu-lalu di rantauan. Ini seperti bukan tempatku, begitu jenuh! sangat buat jenuh! menurutku. Beberapanya hanya serupa kesia-siaan. Aku merugi! merasa begitu merugi! Tuhanku, telah mengingat itu dalam firmanNya. namun aku begitu lengah.

          Ini puncakku, terlalu terbuai dengan sekitarku. Orang-orang terdekatku yang biasa saja, tak memotivasi terlalu acuh. Mimpiku, masih begitu ranum. Masih di  pucuk mata. Aku tak ingin melepasnya dan menerbangkannya. harus kugenggam, cita-cita itu.
     
          Selain KOMPAK (Kota Medan), kini aku memang punya keluarga baru. Memotivasiku untuk terus menjamahi kata-kata, menyetubuhi makna dan melahirkan karya. Namun entah mengapa, tiga bulan terakhir ini, aku pun jarang berkunjung ke kebun kata-katanya. Kebun kata-kata yang sebenarnya paling subur. Aku dalam jenuh, entahlah aku tak mengerti. jenuh dengan kegiatanku yang begitu-begitu saja? atau jenuh dengan pekerjaanku? ah, mungkin. sungguh maafkan aku. (aku ingin menangis, karena sudah jarang menulis T_T)

         Cita-citaku di tahun 2014 ini, mulai dari cita-cita yang begitu sederhana. Pada  1 Januari 2014, cita-cita sederhanaku tercapai. Mendaki ke Bur Gayo, berdiri di antara Grafiti Gayo Highland. Lalu 1 Februari 2014, menjenguk keluarga KOMPAK-ku yang hampir 1 tahun tak pernah lagi kukunjungi. (ah, tetaslah rindu itu). Inilah mimpi-mimpi sederhana itu, begitu sederhana.


       
         
          Mendekap sunyi, bagiku menjadi teman terbaiknya adalah buku, musik dan tempat makan (cafe/restauran). Di sana, kesunyian tidaklah jadi terlalu ironis. Kesunyian tak begitu tampak, sewarna lampu yang temaram di bawah sinar rembulan.


   











                                                                                                                 
 Kesunyian menjadi lebih padu, pada petang di temani kopi atau di siang hari duduk di sudut cafe dengan meja berantakan, sepulang dari toko buku. Ah, sungguh manis :)




  Masih di tahun 2014, begitu banyak mimpi yang telah terajut pada semangatku. Perlahan ingin kurealisasikan. Ingin segera menggapai cita, sungguh kuberharap itu jadi waktu yang memisahkanku dengan kesunyian :)

                                                                    Kamar redup, malam 5/2/2014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar